TANDA-TANDA BERSANDAR KEPADA AMAL ( Hikmah 1 dari Kitab Hikkam )

 

 TANDA-TANDA BERSANDAR KEPADA AMAL
( Hikmah 1 dari Kitab Hikkam )


مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزّ َلَلِ 

“Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-raja’ (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana.”

Di antara tanda mengandalkan amal perbuatan adalah berkurangnya pengharapan (terhadap ampunan Allah) ketika melakukan kesalahan dosa

Syaikh Imam Ibnu ‘Athailah As-Sakandari berkata : Jangan sekali-kali mengandalkan pada amal perbuatan yang telah kita lakukan untuk memperoleh rida Allah. Jangan pula mengandalkan balasan yang telah Allah janjikan kepada kita; seperti shalat, puasa, sedekah, dan segala jenis kebaikan. Akan tetapi, andalkanlah semua itu pada anugerah, rahmat dan kemurahan Allah swt. Lewat perkataan inilah, Ibnu ‘Athailah mendorong kita untuk menghindari sikap bergantung pada selain Allah; termasuk pada amal ibadah.

Dasar perkataan dari Ibnu ‘Athaillah ini adalah sabda Rasulullah saw: 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ بُكَيْرٍ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَنْ يُنْجِيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ قَالَ رَجُلٌ وَلَا إِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا إِيَّايَ إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ وَلَكِنْ سَدِّدُوا و حَدَّثَنِيهِ يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّدَفِيُّ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ بُكَيْرِ بْنِ الْأَشَجِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَلَمْ يَذْكُرْ وَلَكِنْ سَدِّدُوا

                                                                                                                                                                Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Laits dari Bukair dari Busr bin Sa'id dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Tidaklah seorang pun dari kalian yang diselamatkan oleh amalnya." Seseorang bertanya: Tuan juga, wahai Rasulullah? beliau menjawab: "Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahkan rahmatNya padaku, tapi tujulah kebenaran." Telah menceritakannya kepadaku Yunus bin Abdula'la Ash Shadafi telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Wahab telah mengkhabarkan kepadaku Amru bin Al Harits dar Bukair bin Al Asyuj dengan sanad ini, hanya saja ia menyebutkan: "Rahmat dan karuniaNya, " dan tidak menyebut: "Tapi tujulah kebenaran."

Hadits ini pun yang dinukil penulis Jawharah At-Tauhid menjadi sebuah kalimat:

“Maka jika Dia memberi kita pahala, maka itu murni karena kemurahan dan jika dia mengazab, maka itu murni karena keadilan.”

Syekh Ramadhan Al Buthi menjelaskan dalam syarah Al-Hikam terkait perkataan Ibnu ‘Athailah ini, bahwa terkadang kita berpikir bahwa hubungan kita dengan Tuhan adalah seperti hubungan manusia dengan manusia. Saat kita menginginkan sesuatu, maka kita langsung beribadah kepada Allah dengan berharap Allah akan memberikan sesuatu kepada kita secara langsung dan cepat. Hingga, hubungan kita dengan Allah hanyalah proses jual-beli.

Syekh Al-Buthi dalam menjelaskan kalimat Ibnu ‘Athailah ini mengkritik hal tersebut. Beliau mengatakan, “Dimanakah posisi penghambaan Anda kepada Allah? Bagaimana sikap Anda terhadap kalimat suci yang diajarkan Rasulullah saw kepada sahabatnya yang berbunyi Laa haula wa laa quwatta illa Billah (Tiada daya dan kekuatan melainkan atas izin Allah)? Bukankah Allah yang memberikan Anda kemampuan untuk mengerjakan shalat? Bukankan Allah yang memberikan Anda kemampuan untuk menjalankan puasa? Bukankah Allah yang melapangkan hati Anda untuk menerima keimanan? Bukankah Allah yang membuat Anda mencintai keimanan dan membenci kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan? Bukankah Allah yang melapangkan hati dan menjadikan Anda mampu mendatangi rumah-rumah Allah?”

“Kalau begitu, apa yang membuat Anda membayangkan bahwa ketaatan adalah harga yang harus Anda bayarkan dari harta milik Anda untuk membeli surga Allah?”

Jadi, kita tidak boleh beranggapan bahwa kita berhak mendapatkan surga Allah dan pahalanya, dengan alasan telah mempersembahkan apa yang Allah wajibkan kepada kita. Mengapa? Karena dengan keyakinan ini, kita telah beranggapan bahwa apapun ibadah yang kita kerjakan merupakan hasil dari kemampuan diri kita sendiri dan Allah swt sebagai pencipta kita tidak memiliki hubungan dengan kemampuan diri kita.

Apalagi, saat manusia mengerjakan amal shaleh, itu hanya menunaikan sebagian kecil dari kewajiban penghambaannya kepada Allah. Amal shalehnya juga merupakan kewajiban karena berbagai kenikmatan yang diberikan Allah di dunia ini, yang beragam dan tak terhitung. Waktu kita di dunia ini untuk menikmati kenikmatan Allah jauh lebih banyak daripada amal shaleh kita.

Banyak riwayat yang menceritakan bahwa salah seorang hamba berkata pada hari kiamat, “Wahai Tuhanku, perhitungkanlah amal saya sesuai dengan keadilan-Mu dan dengan apa yang berhak saya peroleh. Karena saya telah menjalani seluruh hidup tanpa melakukan kemaksiatan sedikit pun.

Lalu Allah mengingatkan nikmat kedua matanya yang melihat dan berfirman, “Apakah kamu telah mensyukuri kedua matamu?” Lalu, Allah meletakkan kenikmatan-Nya itu pada sebuah sisi timbangan dan meletakkan ketaatan dan kedekatan hamba tersebut pada sisi timbangan lainnya. Hasilnya timbangan kenikmatan-Nya lebih besar dibanding timbangan ketaatan dan kedekatan yang dianugerahkan Allah kepada hamba agar ia mampu melaksanakannya.

Walapun manusia yang diberi petunjuk untuk melaksanakan ketaatan, maka ia tetap memikul tanggung jawab menjalankan kewajiban dari Allah. Dia juga memikul tanggung jawab atas berbagai kenikmatan yang diberikan Allah. Lantas dengan alasan apa dia menuntut Allah untuk memberinya kemuliaan balasan berupa surga yang kekal? Dengan alasan apa dia memohon kepada Allah menambahkan kenikmatan-kenikmatan duniawi?

Syekh Al-Buthi kemudian bercerita tentang seorang gadis salehah yang menjadi asisten rumah tangga. Suatu malam, majikannya terbangun di tengah malam dan menyaksikan gadis tersebut sedang shalat di satu sudut rumahnya. Majikan itu mendengarkan gadis tersebut berdoa saat sujud, ” Ya Allah, sesungguhnya aku memohon dengan cinta-Mu kepadaku untuk memberikanku kebahagiaan, kesehatan, dan kemuliaan”

Majikan itu menunggunya selesai shalat, lalu bertanya, “Mengapa kamu berdoa seperti itu kepada Allah? Mengapa kamu tidak sebaiknya berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon dengan cintaku kepadamu agar Engkau memberiku kebahagiaan, memberiku kemuliaan?”.

Gadis itu menjawab, “Seandainya bukan karena cinta-Nya kepada saya, maka Dia tidak akan membangunkan saya sekarang ini. Seandainya bukan karena cinta-Nya kepada saya, maka Dia tidak memberi saya kemampuan berdiri dihadapan-Nya. Seandainya bukan karena cinta-Nya kepada saya, maka Dia tidak akan membuat saya mampu mengucapkan bisikan ini.

Tauhid seperti ini yang seharusnya mewarnai hati kita. Bagaimana mungkin kita membangga-banggakan ibadah kita kepada Allah, sementara Allah lah yang memberi petunjuk dan kemampuan untuk melakukannya? Oleh karena itu, prinsip inilah yang dimaksudkan penulis kitab Jawharah at-Tauhid saat menyatakan “Ketika Allah memberi pahala kepada kita, maka itu murni karena kemurahan-Nya. Ketika Allah mengazabmu, maka itu murni menegakkan keadilan-Nya”

Apa yang terjadi jika kita mengandalkan amal perbuatan saja tanpa berharap cinta Allah? Yang paling jelas adalah hilangnya harapan dalam diri kita. Apabila kita melakukan kesalahan, seperti, terlanjur melakukan maksiat, atau meninggalkan ibadah rutinnya, kita menjadi mudah merasa putus asa dan berkurang pengharapannya kepada Alloh. sehingga apabila berkurang pengharapan kepada rahmat Allah, maka amalnyapuan akan berkurang dan akhirnya berhenti beramal. Hal inilah yang menjadi sangat berbahaya.

Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon, kuburan, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seakan-akan merasa sudah cukup kuat dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat, taufik, hidayat dan karunia Allah subhanahu wata’ala.

wallahu A'lam 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengawal Demokrasi Daerah dan Wilayah